“6 video musik untuk kedua kantung album musik TULUS sudah diproduksi berdasarkan konsep & ide dari TULUS.”

TULUS x Album Gajah

Pada akhir tahun 2013, TULUS akhirnya menyelesaikan proses rekaman untuk kantung album kedua-nya. Setelah hampir dua tahun menjelajahi industri musik Indonesia, TULUS memilih untuk kembali memperkenalkan karya musiknya yang terbaru pada awal tahun 2014. 30.000 keping kantung album TULUS-Gajah diproduksi kurang dari 15 hari setelah album tersebut dirilis. Album TULUS-Gajah juga merupakan satu-satunya album musik yang berbahasa Indonesia yang masuk ke dalam Top 10 album musik yang best-selling di iTunes Asia.

Judul dari album ini, yaitu Gajah, dipilih berdasarkan sejarah masa kecil dari TULUS sendiri. Temannya memanggil Ia dengan sebutan ‘Gajah’ sebagai sebuah nama panggilan. Gajah juga merupakan judul dari salah satu lagu yang ada di dalam album ini. Melalui kantung album kedua-nya, TULUS berharap Ia dapat membagikan berbagai macam cerita kepada pendengarnya. Cerita-cerita yang dikemas dengan indah dalam eksplorasi instrumental yang baru, yang disampaikan secara elegan dengan vokalnya yang mempesona.

Lagu-lagu seperti Tanggal Merah, Satu hari di Bulan Juni, Bumerang, Gajah dan beberapa lainnya merupakan karya-karyanya yang dapat anda temukan di dalam album kedua ini.

TULUS dan Video-video Musiknya

Tujuh video musik untuk kedua kantung album TULUS telah dirilis melalui kanal YouTube miliknya. TULUS juga aktif berpartisipasi dalam proses produksi dan pembuatan konsepnya. “Sewindu”, “Baru”, “Gajah”, “Jangan Cintai Aku Apa Adanya”, “Pamit”, “Ruang Sendiri”, dan “Monokrom” merupakan video-video musik yang dibuat berdasarkan konsep dan ide-ide dari TULUS.

Pada musik video “Teman Hidup” dan “Sepatu”, TULUS bertindak sebagai seorang sutradara, dengan teman-teman dekatnya dalam sebuah tim kecil. Proses pengambilan gambar musik video untuk Sepatu dilakukan di Hamburg, Jerman dan musik video untuk “Baru” dilakukan di Tokyo, Jepang. Sedangkan pengambilan gambar untuk musik video TULUS “Pamit”, dilakukan di Praha, Republik Ceko.

Setelah “Pamit”, TULUS kembali merilis musik video bertajuk “Ruang Sendiri”. Musik video ini adalah hasil kerjasama antara seniman performance Melati Suryodarmo dan senias muda Indonesia, Embara Films.

Pada November 2016, TULUS merilis musik video ketiga dari album ketiganya bertajuk “Monokrom”. Video ini mewakili tema besar dari album MONOKROM, yaitu sebuah perwujudan selebrasi kehidupan.

Di awal bulan September 2018, TULUS merilis video musik dari lagu terbarunya yang berjudul “Labirin”. Video ini menceritakan bagaimana sidik jari dan daun telinga manusia, mempunyai bentuk labirin yang berlika-liku. Serta detail mata dan retinanya yang menyerupai susunan rasi bintang. Inilah yang menjadi suguhan visual di video musik Labirin.

TULUS dan Penampilan-penampilannya Di Luar Negeri

Pada akhir tahun 2013, TULUS diundang oleh Komunitas Pelajar Indonesia di Hamburg, Jerman. Ia mempersembahkan musiknya di depan para audiens yang terdiri dari orang-orang Indonesia dan Jerman di Friedrich-Ebert Halle of Hamburg.

Oktober 2014, TULUS menjadi salah satu penampil yang mengisi acara malam penghargaan Anugerah Planet Muzik 2014 di Singapura dan disiarkan secara langsung di Malaysia dan Indonesia. Ia juga membawa pulang salah satu penghargaan yaitu Best New Male Artist APM 2015.

Pada Mei 2015, TULUS mewakili Indonesia untuk menghadiri Festival musik berskala Asia Pasifik yang bertajuk International Music Conference of Music Matters 2015 yang diselenggarakan di Singapura. Selama acara berlangsung, TULUS tampil sebanyak dua kali dalam Music Matters Festival dan juga mempersembahkan musiknya terhadap tamu-tamu yang menghadiri Konferensi tersebut.

Beberapa bulan kemudian, pada September 2015, TULUS diundang untuk tampil di acara Soundsekerta 2015, sebuah acara yang diselenggarakan oleh komunitas pelajar Indonesia di Melbourne, Australia.

TULUS juga diundang untuk menghadiri Hamazo 10th Festival di Hamamatsu, Jepang. Ia sangat menantikan momen untuk mempersembahkan musiknya untuk pertama kalinya kepada orang-orang Jepang pada bulan Oktober 2015 itu.

Pada akhir bulan Oktober 2015, TULUS tampil di Macquarie University Auditorium, Sydney. Acara ini juga diselenggarakan oleh komunitas pelajar Indonesia di Sydney, Australia.

Untuk yang kedua kalinya, TULUS kembali diundang untuk tampil di Hamamatsu, Jepang pada bulan Mei 2016. Pada saat itu, penampilan TULUS disaksikan oleh 15.000 orang.

Pada awal Oktober 2016, TULUS mendapatkan kesempatan untuk tampil di mini konser perdananya di San Francisco. TULUS Live in San Franciso menjadi tajuk dalam acara tersebut. Diadakan di Social Hall – The Regency, TULUS menampilan 14 nomor lagu karya miliknya.

Setelah San Francisco, TULUS melanjutkan perjalananannya di kota Hamamatsu, Jepang. Dalam kesempatan ini, TULUS tampil sebagai pembuka di festival musik jazz berskala internasional bertajuk International Jazz Festival in Hamamatsu.

2018 merupakan tahun dimana TULUS mencoba menyapa pendengarnya di negeri tetangga, Malaysia. Pada Juni 2018, TULUS resmi merilis Album Monokrom. Bekerjasama dengan Shiraz Project serta Wardah, Ia pun sempat menggelar konser mini perdananya di sana pada pertengahan September 2018 yang digelar di Istana Budaya, Kuala Lumpur.

TULUS x Proyek Kolaborasi

Album-album musik TULUS bukanlah satu-satunya karya yang Ia ciptakan selama perjalanannya di dunia musik. TULUS telah melakukan beberapa proyek kolaborasi dengan macam-macam brand yang melibatkan kampanye-kampanye komersial.

Pada pertengahan 2014, TULUS mendapatkan kesempatan menciptakan lagu soundtrack untuk film Indonesia yang berjudul “3 Nafas Likas”. Lekas, merupakan lagu yang Ia buat untuk menjadi soundtrack film ini.

Selama kuartal ketiga tahun 2014 hingga kuartal kedua tahun 2015, TULUS berperan sebagai brand ambassador untuk Bend The Rules International Campaign, yang diselenggarakan oleh Hewlett-Packard (HP). TULUS juga telah merilis lagu baru yang menjadi tema sebagai bentuk dukungannya terhadap kampanye ini.

Pada pertengahan tahun 2015, TULUS menciptakan lagu lainnya bersama dengan RAN (grup musik Indonesia), untuk proyek lain yang akan digunakan sebagai lagu tema oleh brand cairan pembersih mulut internasional, Listerine.

Di penghujung tahun 2016, TULUS menulis sebuah lagu untuk single terbaru Andien yang bertajuk ‘Belahan Jantungku’. Karya musik ini dirilis pada masa bulan ke-9 kehamilan Andien dan juga bertepatan di hari Ibu di tanggal 22 Desember 2016. Tidak hanya sebagai pencipta lagu, TULUS juga memberikan kontribusinya sebagai produser dalam proses produksi karya ini.

Tahun 2017 merupakan awal kerjasama TULUS sebagai brand ambassador Soyjoy, brand makanan sehat. Sebuah serial bertajuk ‘Ini Perjalananku’ yang terdiri dari 4 episode dan dirilis di kanal YouTube Soyjoy Indonesia. Puncak dari serial yang diunggah hingga awal 2018 ini adalah digelarnya Intimate Concert ‘Ini Perjalananku’ di Jakarta. Tahun berikutnya bersama Soyjoy Indonesia, TULUS merilis lagu berbahasa Jepang keduanya berjudul ‘Natsu Wa Kinu’ yang merupakan lagu legendaris di Jepang.

Pada tahun 2018, TULUS didaulat menjadi salah satu product ambassador dan selfie icon terbaru Vivo Indonesia (merk ponsel pintar) bersama Maudy Ayunda.

Kerjasama TULUS bersama Davy Linggar tidak hanya di bidang musik saja. Keduanya sempat mewujudkan kolaborasi seni dengan meluncurkan sebuah buku ‘Yang Juga Mendengar’. Buku ini merupakan bentuk respons TULUS terhadap foto-foto karya Davy Linggar. Sebelum menjadi buku, foto dan respons yang dibuat TULUS dalam bentuk narasi pendek ini sempat dipamerkan di ArtJog 2018. Tujuannya agar pesan yang ada di dalam foto bisa sampai kepada pembaca.

Selama perjalanan karier musiknya, TULUS sempat beberapa kali berkolaborasi dalam melahirkan beberapa karyanya. Sebut saja hasil kolaborasinya bersama Petra Sihombing dalam ‘Labirin’ yang dirilis pada 2018 dan ‘Adaptasi’ yang merupakan single terbaru TULUS. Selain Petra, ‘Adu Rayu’ adalah karya kolaborasi TULUS, Yovie Widianto dan Glenn Fredly yang dirilis pada awal 2019 dan berhasil membawa pulang 5 piala AMI Awards termasuk Karya Produksi Kolaborasi Terbaik.

TULUS x Teman Gajah

Pada Agustus 2014 lalu, TULUS merilis video musik ‘Gajah’ yang proses pembuatannya dilakukan di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung selama 4 hari. Dengan mengangkat kehidupan asli gajah, TULUS dalam video musik tersebut juga tampil bersama 5 gajah binaan WWF Indonesia.

Salah satu gajah yang tampil dalam video musik ‘Gajah’ adalah Yongki. Sayangnya September lalu, Yongki dibunuh dan dicuri gadingnya. Dilatarbelakangi kejadian tersebut, akhirnya TULUS berinisiatif untuk memulai kampanye ‘Jangan Bunuh Gajah’ pada tahun 2016 guna melindungi gajah-gajah yang tersisa.

Tahun 2017, kampanye ‘Jangan Bunuh Gajah’ berganti nama menjadi ‘Teman Gajah’. Awalnya, kampanye ini mencoba untuk menggalang dana guna pengadaan kalung pendeteksi lokasi (GPS) untuk gajah-gajah binaan WWF-Indonesia. Sebanyak 6 kalung telah diberikan TULUS, hasil dari penggalangan dana ‘Teman Gajah’ selama ini dan telah diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh.

TULUS juga sempat berpartisipasi di Paris Peace Forum 2019 bersama perwakilan Tim Pembela Flora Fauna Aceh, dimana ia menyuarakan kegiatan dan tujuan dari ‘Teman Gajah’. Perjalanan ini merupakan dukungan WWF-Indonesia dan Wardah. Fokus utama dari kampanye ini adalah ingin mengedukasi masyarakat tentang kondisi gajah sekarang dan mengajak mereka untuk ambil bagian guna menyelamatkannya. Sampai saat ini, penggalangan dana masih dibuka lewat Kitabisa.com/TemanGajah.

TULUS x Bantu Guru Belajar Lagi

Kurangnya dukungan membuat guru tak punya cukup ruang untuk melaju pesat adalah salah satu alasan lahirnya kampanye ‘Bantu Guru Belajar Lagi’. Kegiatan ini bertujuan menggalang dana untuk pengadaan program pelatihan guru.

Bersama beberapa sahabatnya, TULUS menjadi salah satu inisiator untuk kampanye ini. Bagi TULUS, pendidikan yang baik mampu membuka pandangan anak-anak untuk memahami apa yang ingin mereka lakukan di masa mendatang nanti. Lewat program ini juga, TULUS berharap agar dunia pendidikan lebih diperhatikan.